Sirivanno

Berusaha untuk lepas dari kemelekatan...


HP hilang?! Waaaaaaaaaaaa

Hari ini karma buruk berbuah, HPku hilang, tadi sempat mau cari orang yang memiliki ciri2 seperti yang dideskripsikan bu piscok di depan gang. Tapi setelah jalan2 tidak lama, aku memutuskan untuk tidak mencari dengan cara ini, karena kemungkinannya kecil. Harus menerima perubahan yang terjadi. Harus mulai banyak berbuat baik lagi.

Label:

Masyarakat Buddhis harus lebih banyak membaca buku-buku Dhamma

Rabu kemarin, tanggal 13 Agustus 2008, saya menghadiri Dhamma Talk di ADS(Anggrek Dhamma Saraniya). Dhammadesana oleh Bhante Cittaguto. Temanya....katanya "Spontan" :))

Mengapa saya mengatakan bahwa masyarakat Buddhis harus lebih banyak membaca buku Dhamma? Karena seringkali, tidak hanya pada Dhamma Talk ADS kemarin, saya mendapatkan para umat yang bertanya sesuatu yang kadang tidak perlu ditanyakan dan sudah jelas jawabannya. Mungkin mereka bertanya seperti itu karena tidak percaya buku dan lebih percaya jika dari mulut seorang Bhante yang menjawabnya.

Tapi hal itu menjadi ironis ketika pertanyaan yang dilontarkan, setelah mendapatkan jawaban tidak dianalisis terlebih dahulu. Tentu saja teman-teman mengerti tentang Kamma bukan? Saya anggap teman-teman yang sedang membaca mengerti. Kalau tidak mengerti silahkan search di om google. :D

Pada kesempatan Dhamma Talk di ADS kemarin, seorang umat menanyakan suatu kasus. Seperti ini kasusnya(Jika saya tidak salah dengar), "Di suatu keluarga, Ayah/Ibu/Orang Tuanya sebelum meninggal berpesan bahwa ketika sudah meninggal agar jasadnya dimakamkan saja. Dikubur. Tapi anak-anaknya malah mengkremasi dan tidak menuruti permintaan terakhir orang tua mereka. Lalu tidak lama anak-anak tersebut tertimpa musibah, yakni jatuh miskin. Pertanyaannya, apakah benar hal ini karena disebabkan tidak menuruti kemauan orang tua alias melawan kehendak orang tua?"

Bhante menjawab, hal itu adalah memang kesalahan anak-anak itu karena tidak mengindahkan permintaan terakhir orang tua. Oke, saya setuju. Masalahnya adalah umat yang bertanya tersebut lalu menyimpulkan bahwa melawan orang tua akan menyebabkan ketidaksuksesan. Saya mendengar umat tersebut berbisik-bisik pada saat menyimpulkan hal tersebut. Nah lo, otak saya lalu berputar-putar, mencoba mencari-cari pengetahuan yang sudah kumiliki sebelumnya untuk menganalisis kesimpulan tersebut.

Mari kita lihat secara logika Buddhis:
  • Saya mendapatkan pengetahuan dari Pak Lauw Acep, bahwa satu akibat kadang tidak hanya disebabkan oleh satu sebab, kadang diperlukan berbagai sebab untuk menghasilkan satu akibat. Contohnya saja Air(H2O), dibutuhkan 2 H + O untuk menghasilkan air.
  • Karma buruk yang kita perbuat pada A, belum tentu kita mendapat balasan dari si A. Bisa saja kita dapat dari si C.
  • Misal saya rumuskan dengan matematika,
    • Ani selalu mendapatkan nilai A pada semua ujiannya.
    • Ani adalah manusia.
    • Maka manusia pasti selalu mendapatkan nilai A pada semua ujiannya.
    • Aneh tidak? Kita tahu tidak semua manusia akan mendapatkan nilai A pada semua ujiannya, hanya karena Ani selalu dapat nilai A walaupun Ani seorang manusia.
  • Jadi saya juga merasa ada yang aneh dengan kesimpulan umat tersebut,
    • Anak-anak tersebut melawan kehendak orang tuanya.
    • Anak-anak tersebut menjadi tidak sukses.
    • Semua anak-anak yang melawan kehendak orang tua akan menjadi tidak sukses.
    • Aneh toh? Dimana anehnya? Wajar kan jika kita melawan kehendak orang tua akan membuat kita menjadi tidak sukses?
    • Mari kita lihat lagi, kesimpulan tersebut harus dikecilkan ruang lingkupnya, tidak bisa dikatakan semua anak yang melawan kehendak orang tua akan menjadi tidak sukses. Kalau orang tuanya mempunyai kehendak yang bertentangan dengan Dhamma, apa kita turuti?
    • Contoh nyata saja, Ayya Santini yang awalnya tidak diizinkan untuk menjadi Bhikkhuni oleh orang tuanya, akhirnya kan menjadi seorang Ayya yang dapat membabarkan Dhamma demi semua makhluk hidup.
    • Jadi kesimpulannya secara matematis, TIDAK SEMUA anak yang melawan orang tua menjadi tidak sukses, atau ADA anak yang melawan orang tua menjadi tidak sukses.
Dibalik pernyataan-pernyataan saya di atas yang kelihatan seperti komplain, yang ingin saya tegaskan adalah bahwa kesimpulan terhadap suatu masalah jangan dilihat hanya dari satu sisi seperti yang Bhante Cittaguto jelaskan. Harus melihat dari sisi lain dulu. Seperti cerita tentang orang buta yang merabah gajah, tau kan ceritanya? :D

Ada lagi, pertanyaan dari umat, begini ceritanya, "A melakukan perbuatan baik pada B, tapi B tidak menunjukkan perubahan sikap menjadi lebih baik. Apakah A harus tetap berbuat baik kepada B tapi harus menanggung beban hati yang lelah atau A tidak melanjutkan perbuatan baiknya pada B dan dialihkan saja ke C, D, E atau lainnya?"

Menurut saya Bhante sudah cukup jelas dalam menjawabnya, tapi mungkin karena daya pencerapan orang beda-beda, jadi umat tersebut selalu bertanya-tanya lagi dan lagi seperti tidak puas akan jawabannya.

Mari kita lihat, B tidak berubah walaupun A sudah melakukan perbuatan baik terus menerus, sebenarnya kenapa B tidak berubah? Kita harus lihat dulu apakah A melakukan perbuatan baik sudah benar? Sudah tepat? Apa perlu A merubah cara berbuat baik terhadap B? Kan berbuat baik tidak hanya 1 jalan, masih ada jalan-jalan lain. Kalau memang A mau B berubah, pasti dia akan terus berusaha mencari jalan agar B bisa berubah. Kalau A sudah berpikiran untuk mengalihkan perbuatan baiknya saja, berarti dia tidak benar-benar ingin B berubah.

Lalu ada lagi pertanyaan yang jelas-jelas tidak perlu ditanya sebagai umat Buddhis, "Sebagai umat awam, ketika berada pada kondisi dimana kita akan digigit ular, apakah kita berusaha untuk membunuhnya atau tidak?"

Bhante menjawab, sebisa mungkin tidak membunuhnya. Bahkan jika kita berjiwa Bodhisatva kita merelakan tubuh kita untuk menjadi santapan makhluk lain.

Umat kembali bertanya, apakah benar tidak boleh membunuh?

Padahal pada saat awal kebaktian sebelum Dhamma Talk, kita kan membaca "Panatipata Veramani Sikkhapadam Samadiyami" yang artinya "I undertake the precept to refrain from destroying living creatures" :D

Kalau mau benar-benar menjaga sila jangan setengah-setengah, jangan mencari jawaban dari seorang Bhante hanya untuk melegakan diri sendiri. Menurut saya bagaimanapun juga, umat itu hanya mencari area aman, mungkin malah dia menunggu-nunggu jawaban "boleh dibunuh". Maaf jika saya berpikiran seperti ini. Tapi kan sudah jelas, bahwa ketika kita sudah bertekad seperti itu, untuk apa bertanya "Bolehkah saya membunuh?". Lucu kan?

Kembali lagi, ke niat, pikiran pada saat berbuat dan berucap.

"Pikiran adalah pelopor dari segala sesuatu, pikiran adalah pemimpin, pikiran adalah pembentuk. Bila seseorang berbicara atau berbuat dengan pikiran jahat, maka penderitaan akan mengikutinya bagaikan roda pedati mengikuti langkah kaki lembu yang menariknya."

Dhammapada I:1

Nah, dari semua kejadian itulah aku mulai merasa masyarakat Buddhis kurang banyak membaca, terlalu banyak pertanyaan yang bisa dijawab jika ia membaca buku Dhamma. Tapi tidak dilakukan. Dari buku kita bisa tahu, dari buku kita diberi tahu, dari buku kita mengetahui dan dari buku kita memberi tahu.

Mari jadikan masyarakat Buddhis yang berpengetahuan luas dengan banyak membaca buku-buku Dhamma. Mulailah mencari buku Dhamma di perpus terdekatmu. Di vihara, atau pinjam punya teman.

Label: ,

Penjelasan Sepengetahuanku ya...

Baru-baru ini aku dapat sms dari temanku yang menanyakan apakah dalam agama Buddha mengenal Tuhan? Aku menjawab sesuai dengan yang kutahu dan perbincangan pun berlanjut, sampai mengenai doa dalam agama Buddha. Karena perbincangan ini dilakukan melalui sms, maka aku takut jikalau ada informasi yang salah tangkap. Oleh karena itu aku menuliskannya ke sini agar temanku itu bisa membaca dengan lebih lengkap, tentunya dengan sepengetahuanku. Mungkin bagi teman-teman Buddhis lainnya yang membaca dan melihat adanya kesalahan dapat memberikan comment dan memperbaiki kesalahan tersebut.

Baiklah, biar kujelaskan...

Pertama, ada ga sih Tuhan dalam agama Buddha?
Jawabnya, kita harus lihat dulu definisi Tuhan itu sendiri, tentunya definisi Tuhan tiap agama akan berbeda-beda, bahkan definisi per orang pun berbeda. Nah kalau di agama Buddha, dikenal "Atthi Ajatam Abhutam Akatam Asamkhatam" yang artinya : Suatu Yang Tidak Dilahirkan, Tidak Dijelmakan, Tidak Diciptakan dan Yang Mutlak.

Nah yang menarik adalah kata-kata "Tidak Dijelmakan", menurut pengertian saya Tuhan tidak bisa dipersonifikasikan layaknya pada agama lain. Sering kita dengar, Tuhan Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Tahu, Maha DLL. Nah kalau Tidak Dijelmakan, maka definisi Tuhan di agama Buddha tidak ada Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Tahu, DLL. Namun Tuhan tetap Maha Esa, karena Yang Mutlak.

Pada suatu kesempatan Dharma Class, pernah diisi oleh Pak Corneles Wowor(seorang pejabat dari kementerian agama bagian agama Buddha) dijelaskan bahwa umat Buddhis harus tahu bahwa Tuhan itu Maha Esa, tetapi tidak untuk Maha-Maha lainnya. Kenapa? Diceritakanlah suatu cerita, singkat cerita : "si A adalah seorang gadis yang cantik, si B adalah laki-laki yang suka pada si A. Pada suatu hari si B memperkosa si A. Kalau Tuhan Maha Tahu berarti Tuhan tahu kalau B akan memperkosa A. Berarti secara tidak langsung dapat kita simpulkan Tuhan mengijinkan si B memperkosa A. Lalu kalau sudah begini siapa yang disalahkan? Tuhan? Padahal si B menderita karena diperkosa si A. Apakah Tuhan yang katanya Maha Pengasih tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kejadian tersebut?"

ps:ceritanya sih kira-kira gini, tapi kalau ada yg salah, maaf ya Pak Wowor.

Nah, dari cerita di atas dapat kita lihat bahwa kata-kata Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Pengasih, DLL itu tidak sesuai dengan kenyataan. Bukannya saya mau menjelek-jelekkan pandangan agama lain, tapi beginilah pandangan agama Budda yang saya tahu.

Seorang temanku yang Buddhis pernah bercerita, ia pernah ditanya oleh temannya lagi, "Apakah Tuhan ada?", lalu temanku itu menjawab, "Tidak Ada". Menurutku itu karena Tuhan yang dipertanyakan oleh temannya temanku itu definisinya berbeda dengan Tuhan menurut temanku. Jadi ya dijawab begitu.

Lalu temanku yang tadi bertanya tentang Tuhan juga bertanya, apakah Buddha itu Tuhan?
Pertanyaan yang terlalu sering ditanyakan oleh warga non-Buddhis, hal ini karena kurangnya pemahaman mengenai agama Buddha oleh warga non-Buddhis.
Jawabnya, tentu saja BUKAN. Buddha adalah suatu julukan bagi manusia yang telah mencapai kesempurnaan, telah menghancurkan kekotoran batin, telah mengetahui mengenai Hukum Kesunyataan dan telah terputus dari lingkaran hidup-mati. Intinya Buddha bukanlah Tuhan.

Lalu kenapa umat Buddha menyembah Buddha? Eits, tunggu dulu. Pertanyaan itu mesti di revisi. Pertama, umat Buddha tidak menyembah Buddha. Lebih tepatnya, menghormati jasa yang telah Buddha lakukan. Apa sih jasanya? Sebelum kujawab aku jelaskan dulu.
Ada 3 macam Buddha,

  • Manusia yang mencapai keBuddhaan dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain dan dapat mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain dan yang diajarkannya dapat mencapai keBuddhaan. Disebut Samma Sambuddha.
  • Manusia yang mencapai keBuddhaan dengan usaha sendiri tanpa bantuan pihak lain namun tidak dapat mengajarkan Dhamma kepada makhluk lain dan kalaupun bisa tidak akan mengakibatkan yang diajarkannya itu mencapai keBuddhaan. Disebut Pacceka Buddha.
  • Manusia yang mendapatkan ajaran Dhamma dari SammaSambuddha dan mencapai keBuddhaan. Disebut Savaka Buddha.

Nah, yang dikenal sejarah adalah Samma Sambuddha Gautama. Beliau telah mengajarkan Dhamma yang ditemukannya kepada semua makhluk yang membutuhkan sehingga makhluk-makhluk lain pun dapat mengerti dan meresapi Dhamma. Karena itu, kita semua, manusia maupun makhluk apapun memiliki benih keBuddhaan, sehingga sebagai manusia kita dapat menjadi seorang Buddha. Selain Buddha Gautama sendiri, banyak sekali Buddha-Buddha lainnya sebelum beliau. Namun yang sejarah dunia kenal adalah Buddha Gautama.

Jadi, sekali lagi, kita tidak menyembah tapi menghormati. Ada atau tidaknya Rupang(Sebutan untuk patung, kertas, atau objek apapun yang menyerupai Buddha) Buddha, umat Buddha bisa tetap berdoa/membacakan paritta. Tidak perlu ke vihara juga bisa berdoa. Tidak perlu tunggu hari minggu juga bisa berdoa. Ga perlu nungu waktu seperti kalau di Islam(Maghrib, Ashar, dan lainnya). Bahkan, Buddha sendiri tidak pernah bilang kalau Beliau ingin dihormat. Saya pribadi jarang ke vihara, jarang melaksanakan kebaktian. Buddha tidak mengajarkan kita untuk melekat pada ritual, tetapi untuk mempraktekkan Dhamma.

Bagaimana prakteknya? Kalau intinya sih, "Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Perbuatan Baik, Sucikan Hati dan Pikiran."

Lalu ga perlu dong, mengadakan ritual dan pembacaan doa/paritta? Nah, mengapa kita perlu membacakan paritta? Karena dalam pembacaan paritta sebenarnya kita mengulang Dhamma yang telah dibabarkan Buddha Gautama. Jadi dengan membacakan paritta, kita seperti sedang mendengarkan pembabaran Dhamma. Tapi ingat, pembacaan paritta bukan sekedar pembacaan saja. Cukup banyak dari umat Buddhis, yang membaca asal baca, tapi tidak tahu makna/arti di balik paritta itu. Kita juga harus tahu makna/artinya, maka kita bisa lebih mengerti dan paham sehingga bisa mempraktekkannya.

Menurut temanku, membaca paritta dapat membuat hati tenang. Makanya membaca paritta itu cukup penting bagi sebagian besar orang. Ada juga sih cerita tentang kesembuhan dan keajaiban lainnya karena pembacaan paritta. Tapi, membaca paritta sebanyak apapun, hanya akan percuma ketika kita tidak mempraktekkan Dhamma. Jangan Berbuat Jahat, Perbanyak Perbuatan Baik, Sucikan Hati dan Pikiran.

Dalam pembacaan paritta itu sendiri, tidak ada permohonan kepada Tuhan untuk mengabulkan permintaan. Memang ada kata-kata seperti "Semoga semua makhluk berbahagia" dan sebagainya, tapi itu bukanlah permohonan kepada Tuhan tetapi harapan dari kita untuk semua makhluk agar berbahagia. Dalam agama Buddha jelas sekali diajarkan bahwa untuk menghasilkan AKIBAT diperlukan SEBAB, kalau mau kaya ya kerja keras, kalau mau pintar ya belajar. Sebanyak apapun baca doa, ga bakal bisa bikin kamu kaya kalau ga kerja. Sebanyak apapun baca doa, ga bakal bisa bikin kamu pintar kalau ga belajar.

Lalu temanku bertanya, "mengapa tidak berdoa langsung ke Tuhan saja, kan Buddha cuma perantara?" <--dari sinilah aku mengetahui bahwa temanku tidak paham sms-sms balasan yang kukirimkan selama ini atas pertanyaan-pertanyaannya.

Padahal sudah kujelaskan, Tuhan dalam agama Buddha tidak mengabulkan permintaan. Buddha pun tidak mengabulkan permintaan. Jadi berdoa dalam agama Buddha berbeda dengan berdoa di agama lain(yang mungkin banyak meminta, maaf kalau salah).

Ingat, membacakan paritta berarti mengulang Dhamma, bukan meminta sesuatu.

Kalau ada tambahan lagi akan ku-update. Sekian dulu

Label: ,

Mengapa menjadi pemimpin organisasi Buddhis?

Hmm, aku bukan orang yang berpengalaman sih dalam organisasi Buddhis, tapi minimal aku sudah pernah lihat beberapa orang yang menjadi pemimpin organisasi Buddhis, tidak hanya ketua organisasi tapi juga ketua panitia acara/kegiatan bernuansa Buddhis.

Hal pertama yang ingin kusampaikan adalah, mengapa sih menjadi pemimpin organisasi Buddhis? Menjadi pemimpin organisasi tuh sibuk, tidak punya waktu untuk bersantai, masih banyak game yang belum aku tamatin, masih banyak barang yang belum aku beli, masih banyak makanan yang belum aku makan, masih banyak ilmu komputer yang belum aku kuasai. So, buat apa sih jadi seorang pemimpin organisasi Buddhis?

Jadi ketua panitia acara/kegiatan bernuansa Buddhis itu pasti capek, karena harus rapat dengan frekuensi cukup tinggi, belum lagi kalau disalah-salahin karena acara tidak berjalan dengan lancar. Belum lagi kalau terjadi defisit dsb. So, ngapain sih jadi ketua panitia acara/kegiatan bernuansa Buddhis?

Jadi gini, sebagai umat Buddhis tentu saja kita tahu bahwa untuk melatih diri untuk mengikis kemelekatan. Nah, menjadi seorang ketua/pemimpin organisasi Buddhis nih bisa dijadikan pelatihan diri untuk mengikis kemelekatan ini. Loh, koq bisa?

Gini, orang yang suka main game, ketika menjadi ketua/pemimpin otomatis harus menjalankan tugasnya sebagai ketua sehingga waktunya sebagian besar dialihkan ke organisasi dan mengurangi jatah main game. Orang yang suka pacaran juga sama, akan mengalihkan perhatian ke organisasi lebih banyak dibandingkan pacaran. Iya dong, masa sudah jadi ketua, malah menomor satukan keserakahan(game dan pacar contohnya). Dan masih banyak lagi kemelekatan kita yang bisa dikurangi.

Eits, tapi jangan salah, bukan berarti aku suruh kamu berhenti main game atau putusin pacarmu nih. Bayangkan, ketika kamu jadi seorang ketua organisasi, ketua panitia, koordinator. Bayangkan berapa banyak orang yang mengikuti acara/kegiatan bernuansa Buddhis yang kamu adakan memberikan mereka pengetahuan Dhamma. Misal, menjadi ketua panitia acara pelatihan diri, tentunya sibuk mencari tempat, pembimbing, dan menghabiskan waktu. Tapi dengan pelatihan diri itu, para peserta menjadi bertambah pengetahuan Dhamma dan bisa langsung dipraktekkan. Banyak lagi kegiatan-kegiatan lainnya yang bisa memberikan pengetahuan Dhamma. Ingat, segala sesuatu itu sebenarnya bisa memberikan kamu pelajaran hidup, dari batu kerikil di tepi jalan hingga semesta yang luas. Kita harus berpikir bahwa apa yang kita lakukan, sekecil apapun akan memberikan dampak pada orang lain baik secara langsung ataupun tidak.

Jadi dengan menjadikan dirimu pemimpin organisasi Buddhis dan melaksanakan kegiatan sesuai Buddha Dhamma, maka kamu juga membantu makhluk-makhluk lain untuk bertambah pengetahuan dan praktek Dhamma-nya.

Kedua, menjadikan dirimu pemimpin organisasi Buddhis merubah dirimu. Tentu saja ke arah yang lebih baik. Sudah beberapa kali kulihat, seorang pemimpin baik itu pemimpin organisasi Buddhis, ketua panitia, ataupun koordinator, terjadi perubahan dalam diri mereka. Dari pola pikir, sikap, cara berbicara, cara mengatur diri sendiri dan orang lain dan banyak lagi. Dengan menjadi pemimpin, kita sekalian belajar untuk menahan diri agar tidak mengeluarkan egoisme kita dengan mudahnya.

Jadi buat kalian yang tidak yakin bahwa dirinya pantas untuk jadi pemimpin, ubahlah cara berpikirmu, karena perubahan itu ada dan perubahan itu selalu baik jika dalam prosesnya merupakan hasil dari tindakan Buddha Dhamma. Dengan memimpin organisasi Buddhis dan melaksanakan acara/kegiatan bernuansa Buddhis, kamu menerapkan Buddha Dhamma sekaligus membantu makhluk lain.

Jadi, mengapa takut menjadi pemimpin organisasi Buddhis? Mengapa enggan menjadi pemimpin organisasi Buddhis? Kalau takut, itu sama saja dengan takut untuk berbuat baik. Kalau enggan, itu sama saja dengan enggan membantu orang lain. Lagipula menjadi pemimpin bukanlah suatu puncak dari perjalanan, terlalu melebih-lebihkan kalau kita menganggap menjadi pemimpin organisasi Buddhis adalah suatu hal yang spesial, bukan untuk saya. Buang jauh-jauh pikiran itu, dan taruhlah di pikiranmu, bahwa dengan menjadi pemimpin organisasi Buddhis, kita sekaligus membantu makhluk lain.

Tentunya tidak mungkin semua orang menjadi pemimpin, namun memiliki jiwa dan semangat untuk memimpin adalah hal yang baik. Jadi tidak ada salahnya terus berusaha menjadi pemimpin sampai karma memutuskan apakah kamu berhak menjadi pemimpin atau tidak.

Mohon maaf jika ada salah kata, aku memang tidak punya pengalaman berorganisasi yang banyak. Tulisan ini hanyalah pandanganku semata yang kurasa memang ada baiknya setiap orang yang berorganisasi berpikir seperti itu.

Label:

Menuai Kebajikan di Ladang Yang Subur

Compilation of KMBD Dhamma Class

Judul : Menuai Kebajikan di Ladang Yang Subur
Pembicara : Suhu Xian Yen
Tanggal : 9 Mei 2008

Merupakan ringkasan(mungkin ringkasan) dari ceramah Dhamma Class yang diadakan KMBD, ditujukan bagi teman-teman yang tidak bisa menghadiri DC pada hari tersebut. Dan ingat, seperti kata Buddha, bahwa jangan mempercayai begitu saja apa yang diucapkan seseorang bahkan Buddha itu sendiri, buktikan terlebih dahulu.

Pada awalnya Suhu berbicara mengenai "Ladang Yang Subur", Suhu bertanya kepada umat apakah ada yang mengerti apa yang dimaksud "Ladang Yang Subur" itu. Jawabannya macam-macam, ada yang menjawab ladang yang berhubungan dengan Buddha Dhamma, ada yang menjawab ladang yang jika ditanam berbuah dengan cepat/subur, ada pula yang menjawab bahwa berdana harus kepada orang yang tepat, pada waktu dan tempat yang tepat. Semua itu dibenarkan oleh Suhu. Lalu Suhu menyimpulkan bahwa "Ladang Yang Subur" itu adalah ladang yang produktif.

Apa itu ladang yang produktif? Ladang yang produktif adalah ladang yang dapat menghasilkan kembali produk baru. Contoh, yang paling sering kita dengar adalah berdana pada Sangha. Kenapa Sangha disebut ladang yang subur? Dahulu kala, ketika Buddha telah mencapai pencerahan, Buddha mengajarkan Dhamma kepada semua makhluk, setelah itu murid-murid Buddha menjadi banyak, yang disebut sebagai Sangha. Nah, Buddha dan Sangha dalam hidup sehari-harinya, makan melalui pindapatta(pindapatra kalau di Mahayana), energi yang dibutuhkan untuk membabarkan Dhamma didapat dari makanan hasil pindapatta tersebut. Dengan energi itu, Buddha dan Sangha dapat membabarkan kepada banyak makhluk sehingga membantu para makhluk tersebut untuk tercerahkan. Dalam hal ini yang berdana makanan kepada Buddha dan Sangha secara tidak langsung membuat perbuatan baik dengan membantu tercerahkannya para makhluk tersebut. Oleh karena itu dari dulu hingga sekarang Sangha disebut ladang yang subur.

Selain Sangha, ladang subur apa lagi yang dapat ditemukan? Ada yang menjawab Orang Tua. Suhu lalu bertanya, mengapa Orang Tua disebut ladang yang subur? Dijawab, karena Ibu telah bersusah payah melahirkan dan merawat kita, karena Ayah telah bersusah payah mencari uang untuk hidup kita. Benar, kata Suhu. Namun harus dilihat dulu orang tua seperti apa yang menjadi ladang itu. Kalau ladang itu ternyata tidak subur, malah percuma. Contoh, orang tua yang kita kirimi uang, uang itu dipakainya untuk berjudi. Jika diibaratkan, biji semangka dilempar ke lantai, bukannya tumbuh, seminggu kemudian malah jadi kuaci. :))

Dari sisi bakti, berdana kepada orang tua memang perlu. Tapi perlu kebijaksanaan dalam berdana/berbuat kebajikan. Contoh yang ekstrimnya, Suhu menjelaskan, ada seorang pengemis sedang kelaparan dan seorang Bill Gate yang mempunyai yayasan pendidikan, jika ditanya mana ladang yang subur? Pengemis berkata, "Sudah 7 hari 7 malam saya belum makan" sedangkan Bill Gate berkata, "Sudah 7 hari 7 malam saya makan terus". Sebagian besar menjawab pengemis, sedikit sekali yang menjawab Bill Gate. Memang pengemis tersebut terlihat kasihan, dia juga kelaparan, tapi apakah setelah kita memberikan dana kepadanya akan membuahkan suatu hasil? Beda dengan Bill Gate, walaupun dia tidak memerlukan dana kita, lantaran dia sudah kaya, tetapi apa yang dilakukannya adalah kebajikan yang produktif, yayasan pendidikannya dapat mendidik banyak orang. Hal itu lebih baik daripada pengemis yang tidak bisa melakukan apa-apa walaupun sudah kenyang diberi makan. Kebijakan perlu dalam berbuat kebajikan.

Namun, jika kamu menjalani Jalan seorang Boddhisatva, maka dalam hal berdana tidak perlu mengetahui apa yang akan dilakukan oleh orang yang sudah kita berikan dana. Seorang Boddhisatva tidak mengenal objek dalam melakukan perbuatan bajik, yang membutuhkan pertolongan siapa pun itu pasti ditolong.

Berkaitan dengan karma, seseorang ketika ingin berbuat baik haruslah tidak berpikir panjang. Ada sebuah cerita, seorang umat, pada suatu hari ingin makan di restoran Seafood, restoran seafood biasanya menyediakan bahan makanan yang masih fresh(ikan, belut, dll-nya masih hidup ditaruh di ember, dsb). Pada saat melihat belut(kalau ga salah denger) terbesit pikirannya untuk melakukan Fang-Shen. Tapi setelah pikiran itu muncul, muncul juga pikiran, kalau sudah beli belut ini, mau ditaruh dimana? Mau di fang-shen dimana? Karena sembarang fang-shen tidak boleh. Akhirnya karena berpikir seperti itu, ada orang yang membeli semua belut untuk dimakan. Langsung dicincang dibumbui, dan dimasak di depan mata umat itu. Gara-gara lama berpikir, kebajikan yang harusnya dibuat, malah batal. Belut itu mati karena karma-nya sudah berbuah, dan umat itu tidak bisa berbuat kebajikan maka tidak bisa melakukan karma baik. Oleh karena itu, ketika di dalam pikiran sudah ada kata-kata "Saya ingin menolong" jangan dipikir-pikir terlalu jauh lagi.

End.

Label: , , ,

Dengan ini aku menuliskan...

Blog ini aku buat dalam rangka menambah deretan blog-blog Buddhis lainnya.
Hanya saja aku yang belum berpengalaman ini tidak bisa dibandingkan dengan mereka yang sudah memulai lebih dulu dalam menulis blog bertemakan Buddhism.

Di sini aku akan menuliskan beberapa pemikiranku tentang ajaran Buddha yang kudapatkan, entah itu dari buku ataupun Dhammadesana. Kuharapkan dapat menjadi penyejuk bagi kita semua.

Seperti kata Buddha, bahwa jangan mempercayai perkataan siapapun sebelum dibuktikan, maka saya pun berkata, "Jangan mempercayai semua tulisan di dalam blog ini" :D

Aku mengharapkan feedback dari teman-teman yang rela meluangkan waktunya untuk membaca tulisan di blogku ini.

Label: